Trending

Warna Baru Demokrasi, Sekolah Politik dan Komunikasi Indonesia Gelar Webinar “Tantangan Populisme Digital di Indonesia”

Redaksi
Redaksi29 November 2024 pukul 19.24 WIBDiperbarui 29 November 2024 pukul 19.53 WIB
3 menit baca
Iklan

Mediakawasan.id, Jakarta – Fenomena populisme digital disinyalir menjadi tantangan dan warna baru demokrasi di Indonesia, sejalan dengan perubahan lanskap politik Indonesia yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Untuk menjawab hal itu, Sekolah Politik dan Komunikasi Indonesia menggelar webinar bertema “Tantangan Populisme Digital di Indonesia” secara onlinedi Jakarta, Rabu (6/11).

Webinar yang bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) itu diikuti masyarakat umum, terutama generasi muda, diselenggarakan melalui platform Zoom Meeting. Pembicara yang dihadirkan pada webinar kali ini adalah Muhammad Ramadhan (analis politik) dan Bayu M. Noor (kurator komunitas YangMuda Yang Cemas). Peserta webinar begitu antusias dan interaktif selama acarayang berlangsung sekitar dua jam.

Sekolah Politik dan Komunikasi Indonesia menyadari kemunculan populisme digital,yang dimanfaatkan secara efektif melalui platform digital seperti media sosial, blog,dan situs berita alternatif untuk mendapatkan dukungan politik. Populisme digital ini tidak hanya melibatkan aktor-aktor politik tradisional, tetapi juga individu dan kelompok yang memanfaatkan dunia maya untuk menyebarkan ideologi dan membentuk opini publik.

Fenomena populisme secara umum merujuk pada pendekatan politik yang mengklaim mewakili “rakyat” dalam melawan “elite” yang dianggap korup atau tidak peduli terhadap kepentingan umum. Di Indonesia, narasi populis telah ada sejak era reformasi, tetapi dengan adanya teknologi digital, strategi populis menjadi lebih dinamis dan efektif. Media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram, yang memiliki pengguna aktif jutaan orang, menjadi sarana utama untuk menyebarkan narasi populis yang mempengaruhi persepsi dan perilaku politik masyarakat.

Bayu M. Noor menyoroti fenomena populisme digital ini sejalan dengan semakin meleknya bangsa Indonesia terhadap internet. Menurut data BPS tahun 2022, 67,99 persen warga Indonesia sudah memiliki ponsel. Lalu pada 2024, APJII menemukan fakta bahwa 79,5 persen warga Indonesia sudah terhubung dengan internet.

Menariknya, menurut data yang sama, 82,6 persen warga Indonesia di daerah tertinggal punya akses internet. “Data-data ini menunjukkan Indonesia bangsa yang melek digital. Hal itu membawabaikkesempatan maupun tantangannya sendiri,”kata Bayu M. Noor.

Tantangan pada ruang digital akibat semakin meleknya bangsa Indonesia dengan internet, menurut Bayu M. Noor, di antaranya ada banyak narasi yang memuat ujaran kebencian muncul selama Pilpres 2024 berlangsung di Indonesia.

“Paling banyak terjadi di Twitter, kemudian Facebook, baru Instagram. Keadaan itu menimbulkan polarisasi dimasyarakat,” tambah Bayu M. Noor.

Populasi Men digital dan Perilaku Pemilih

Muhammad Ramadhan menggambarkan populisme digital dengan perilaku pemilih di Indonesia, yang puncaknya disebutkan pada saat Pilgub DKI Jakarta tahun 2017dan Pemilu 2019. “Penggunaan narasi populis tersebut dengan atribut SARA. Narasi ini dimunculkan oleh tokoh populis dengan diseminasi informasi secara digital,” kata Muhammad Ramadhan.

Pada gelaran Pemilu 2024, populisme di Indonesia tergambarkan pada momen bersatunya Jokowi-Prabowo pada tahun 2019 dan masuknya Prabowo ke dalam kabinet yang membawa pengaruh simbol “kampret” hilang. Sehingga pada Pemilu 2024, penggunaan narasi populis berganti dengan kemunculan narasi “politik riang-gembira”.

Pada webinar juga terungkap bahwa fenomena populisme digital juga menciptakan peluang bagi kelompok-kelompok marginal yang sebelumnya tidak memiliki akses ke panggung politik. Mereka dapat memanfaatkan media digital untuk menyuarakan isu-isu yang relevan dengan komunitas mereka, memberikan platform alternatif untuk dialog dan advokasi. Namun, keberhasilan ini sering kali dikalahkan oleh kekuatan besar populisme digital yang cenderung mengaburkan fakta dan menggunakan retorika emosional untuk meraih dukungan.

Untuk itu, memahami dinamika populisme digital di Indonesia sangat penting untuk menjaga kesehatan demokrasi dan masyarakat, sehingga dapat merumuskan strategi yang bisa digunakan untuk menghadapi tantangan populisme digital, termasuk peningkatan literasi digital dan regulasi yang lebih baik terhadap penyebaran disinformasi. (Red/*)

Iklan
Iklan
RedaksiRedaksi

Mediakawasan.id, Jakarta – Setiap orang memiliki janji untuk memberikan yang terbaik dan melindungi orang-orang terkasih. Meskipun begitu, janji tidak selalu diwujudkan melalui kata-kata, melainkan seringkali hadir lewat tindakan yang konsisten guna mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Bagi keluarga Indonesia, salah satu bentuk nyata dari komitmen tersebut adalah ketika perlindungan dapat hadir saat risiko terjadi. […]

RedaksiRedaksi

Mediakawasan.id, Jalarta – Perlindungan pekerja migran Indonesia perlu dipersiapkan sejak sebelum keberangkatan, termasuk melalui pemeriksaan kesehatan yang memenuhi standar. Untuk mendukung upaya tersebut, Rumah Sakit Tria Dipa memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) melalui pengembangan layanan medical check-up (MCU) bagi calon pekerja migran Indonesia (PMI). Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya membangun […]

RedaksiRedaksi

Mediakawasan.id, Tamgerang Selatan – Puncak peringatan HUT ke-62 Partai Golkar di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menjadi momentum bagi seluruh kader untuk memperkuat pengabdian kepada masyarakat. Ketua DPD Partai Golkar Kota Tangsel, Airin Rachmi Diany, menegaskan bahwa Golkar harus terus hadir bersama rakyat melalui karya nyata dan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat. Airin mengatakan, kekompakan […]

RedaksiRedaksi

Mediakawasan.id, Serang – Ketua Panitia Konferensi didampingi Ketua PWI Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menyerahkan berkas verifikasi anggota PWI Kota Tangsel kepada Wakil Ketua Organisasi PWI Provinsi Banten di Kantor Sekretariat PWI Provinsi Banten, Senin (19 Oktober 2026). Ketua Panitia Konferensi PWI Kota Tangsel, Irawan Aprilian mengatakan bahwa berkas verifikasi keanggotaan telah diterima dengan keadaan baik […]